SWT berfirman :

Artinya : “ Dan pada sebagian malam hari maka sholat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke maqom tempat) terpuji “. (Q.S. 17, al Israa : 79).
Shalat Tahajud ternyata tak cuma menjanjikan pahala, tetapi juga sangat bermanfaat bagi kesehatan. Ketaatan bersujud kehadapan Allah SWT, ketika kebanyakan orang tengah tidur lelap benar-benar sangat bermanfaat bagi kita, baik di dunia maupun di akhirat, selain itu juga secara jasmaniyah sangat bermanfaat yaitu dapat menghindarkan dari berbagai penyakit. Malam yang dijadikan Allah SWT ternyata begitu banyak manfaatnya bagi manusia yaitu dengan tidur seseorang bisa menjadikan istirahat untuk membangkitkan gairah besok paginya, karena tidur merupakan fenomena biologis yang terjadi pada seluruh makhluk hidup.
Para ilmuwan baru memulai meneliti fenomena tidur belakangan ini yaitu pada abad kedua puluh. Namun, dari hasil riset yang dilakukan oleh para peneliti terhadap orang yang sedang tidur, diketahui adanya beberapa hal, diantaranya berupa perubahan-perubahan pada suhu panas tubuh, kecepatan denyut jantung, dan kecepatan pernafasannya. Namun otak dan syaraf-syarafnya masih berperan dan aktif. Karena otak serta syaraf masih berperan, maka seseorang yang selalu berusaha untuk mendekatkan dirinya dengan kholik dan terbiasa untuk bangun tengah malam dengan maksud melaksanakan shalat tahajud, maka syaraf-syaraf tersebut akan mentransfer terhadap otak, lalu otak memerintahkannya kepada organ tubuh lainnya, pendek kata seseorang seakan ada yang membangunkan.
Allah SWT berfirman :
Artinya : “bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan”. ( Q.S. Al Mujammil, 73 : 2-4).
Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu…… ( Q.S. Al Mujammil, 73 : 20).
Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar .(Q.S. Adz-Dzaariyyaat, 51 : 17-18).
Dan shalat tahajud yang dilakukan di penghujung malam yang sunyi, bisa mendatangkan ketenangan. Sementara ketenangan itu sendiri terbukti mampu meningkatkan kekebalan tubuh yang berkaitan dengan Imunologik.
Sebaliknya bentuk-bentuk tekanan mental seperti stress maupun depresi untuk membuat seseorang rentan terhadap infeksi dan mempercepat perkembangan sel kelenjar serta meningkatkan metastatis (penyebaran sel kanker). Tekanan mental terjadi akibat gangguan irama sirkadian (siklus bioritmik manusia) yang ditandai dengan peningkatan hormon kortisol yang biasa dipakai sebagai tolak ukur untuk mengetahui kondisi seseorang apakah jiwanya tengah terserang stress atau tidak.
Stress bisa ditandai dengan cara edukatif atau dengan cara teknik relaksasi, yang meliputi meditasi atau perenungan dan umpan balik hayati (biofeed back). Shalat Tahajud mengandung aspek meditasi dan relaksasi sehingga dapat digunakan sebagai coping mechanism (pereda stress) yang akan meningkatkan ketahanan tubuh secara natural (alamiah).
Tetapi pada saat yang sama shalat tahajudpun bisa menimbulkan stress, terutama jika dilakukan tidak dengan ikhlash dan tidak kontinyu. Jika dilakukan dengan tidak ikhlash, maka akan terjadi kegagalan dalam menjaga home-statis atau daya adaptasi terhadap perubahan pola irama pertumbuhan sel yang normal, tetapi jika dilakukan dengan ikhlash dan kontinyu akan terjadi sebaliknya. Oleh karena itu keikhlasan dalam melakukan shalat tahajud sangat penting.
Jika ada seseorang yang merasa sakit setelah shalat tahajud, besar kemungkinan berkaitan dengan niat tidak ikhlash, sehingga gagal beradaptasi terhadap perubahan irama sirkadin tersebut. Gangguan adaptasi tersebut tercermin pada sekresi korsitol dalam serum darah yang seharusnya menurun pada malam hari. Bila sekresi korsitol tetap tinggi, maka produksi respon imunologik akan menurun sehingga berakibat munculnya gangguan kesehatan pada tubuh seseorang. Sedangkan jika sekresi menurun, maka indikasinya adalah terjadi produksi respon imunologik yang meningkat pada tubuh seseorang.
Secara mekanis perubahan respon ketahanan tubuh imunologik bagi mereka yang mengamalkan shalat tahajud akan terpantau dari besaran kontrol, sebab yang mendasari perubahan respon ketahanan tubuh imunologik adalah ikhlash atau tidak ikhlashnya seseorang melaksukan shalat tahajud.
imunologik adalah ikhlash atau tidak ikhlashnya seseorang melaksukan shalat tahajud.
Niat yang ikhlash dalam melakukan shalat tahajud akan mendatangkan rasa senang dan optimis. Sedangkan reaksi emosional positif akan menghindarkan diri dari stress. Sebaliknya niat yang tidak ikhlash dalam melaksanakan shalat tahajud akan menimbulkan kekecewaan, kecemasan, persepsi negative dan rasa tertekan. Perasaan negativ dan tertekan itu akan menjadikan seseorang rentan terhadap stress.
Dalam kondisi stress yang berkepanjangan yang ditandai dengan tingginya sekresi korsitol, maka hormon korsitol itu akan bertindak sebagai imonosupresif yang menekan proliferasi limfosil yang akan mengakibatkan imunoglobulin tidak terinduksi. Karena immunoglobulin tidak terinduksi, maka system daya tubuh akan menurun sehingga rentan terkena infeksi dan kanker. Kanker adalah pertumbuhan sel yang tidak normal.
Bila melakukan shalat tahajud dengan ikhlash dan kontinyu akan merangsang pertumbuhan sel secara normal sehingga membebaskan pengamalan shalat tahajud dari penyakit dan kanker. Shalat tahajud yang dilakukan dengan tepat, kontinyu, khusyu’ dan ikhlash dapat menumbuhkan persepsi dan motivasi positif sehingga menumbuhkan coping mechanism (pereda stress) yang efektif. Respon emosional yang positif (coping mechanism) dan pengaruh shalat tahajud ini berjalan mengalir dalam tubuh dan diterima oleh batang otak. Setelah di format dengan bahasa otak kemudian ditransmisikan (dialirkan) ke salah satu bagian otak besar yang di sebut dengan thalamus. Kemudian Talamus menghubungi hipokampus, sebuah pusat memori yang vital untuk mengkoordinasikan segala hal yang di serap indera dan amigdada (pusat emosi).
Selain itu juga thalamus mengontak prefrontal kiri – kanan dengan mensekresi dopanin dan menghambat sekresi seretorim dan norepinefrin. Setelah terjadi kontak timbal balik thalamus, hipokampus, amigdada, prefrontal kiri – kanan, maka thalamus mengontak ke hipotalamus untuk mengendalikan sekresi korsitol.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar